TERNAK ORGANIK NASA

STOCKIST NASA H.1339 BBM: D60FDB25 / WA: 0857-5692-2292

Budidaya Udang Windu NASA

Didalam dunia Perikanan, udang merupakan salah satu komoditas yang penting. Dari segi ekonomis ada 2 (dua) jenis udang yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia , yaitu Udang Windu (Penaeus monodon) dan Udang Vanemei (Lithopenaeus Vannamei).

Di latarbelakangi hal tersebut, PT Natural Nusantara sejak tahun 2002 telah memiliki paket teknologi organik (ramah lingkungan) yang sudah memenuhi aspek K-3 yaitu Kuantitas, Kualitas, dan Kelestarian lingkungan). Sehingga para pembudidaya udang di Indonesia khususnya udang windu dapat memnuhi kebutuhan akan meningkatnya permintaan udang dan dapat mendapatkan keuntungan lebih banyak.


Teknis Budidaya Udang Windu

1.Lokasi Lahan

Lokasi yang baik untuk budidaya udang ini adalah didaerah pantai dengan kondisi tanah bertekstur liat atau liat berpasir sehingga mampu menahan air dan tidak mudah pecah.

Selain itu kondisi lahan harus ada air payau dengan salinitas 0 sampai 33 ppt dengan suhu optimal 26 sampai 30 derajat celcius dan bebas dari pencemaran bahan kimia yang berbahaya. Sayarat lahan lainnya adalah memiliki saluran air masuk dan saluran air keluar yang terpisah. Serta lokasi lahan mudah untuk mendapatkan sarana produksi yaitu benur , pakan ,pupuk ,obat - obatan dan lainnya. Hal penting lainnya adalah tambak harus tersedia aliran listrik.

2. Pengolahan lahan tambak udang


Berikut acuan untuk pengolahan lahan demi mendapatkan hasil panenyang maksimal serta menjaga kelestarian lingkungan disekitarnya :
  • Pengangkatan Lumput
Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur dan sisa makanan organik. Kotoran tersebut dikeluarkan dengan cara merangkul atau penyedotan dengan pompa air
  • Pembalikan Tanah
 Tanah di dasar tambak harus dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk menghilangkan gas - gas beracun yang terikat di partikel tanah.


  •  Pengapuran
Gunakan kapur Zeolit dan Dolomit untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibitpenyakit. Dengan dosis masing - masing 500 kg per ha sesuai keasaman tanah.
  • Pengeringan
 Setelah tanah dikapur, biarkna tanah mengering dan pecah - pecah , untuk membunuh bibit penyakit.
  • Penggunaan pupuk TON dan TAPRO
Lahan kemudian perlu diberi TON dengan dosis 2,5 kg per ha dan TAPRO dengan dosis 2 sampai 3 liter per hektar, untuk mengembalikan kesuburan tanah serta mempercepat pertumbuhan pakan alami berupa plankton  dan menetralkan senyawa beracun.
Caranya, masukkan TON dan TAPRO sesuai dosis ke dalam air, aduk hingga larut, lalu siramkan secara merata keseluruh area lahan tambak.
  • Pemasukan Air
 Setelah dibiarkan 3 hari, giliran air dimasukkan ke tamak. Pemasukan air fase pertama setinggi 10 sampai 25 cm dan biarkan 3 hari, agar bibit- bibit plankton tumbuh setelah diberi pupuk TON. Fase kedua, masukkan air hingga minimal setinggi 80cm

3. Pemilihan Benur

Benur (benih urang atau udang), yang baik bisa ditandai dengan tingkat kehidupan yang tinggi, berwarna tegas (tidak pucat) baik hitam atau merah, aktif bergerak, dan mempunyai alat tubuh yang lengkap.

Tahap Penebaran Benur 
  • Adaptasi suhu : plastik wadah benur direndam selama 15 sampai 30 menit.
  • Adaptasi udara : plastik dibuka dan dilipat ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 - 30 menit , hal ini dimaksudkan agar terjadi penukaran udara
  • Adaptasi kadar garam : caranya dengan memercikan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit
  • Pengeluaran benur : dengan cara memasukkan ujung plastik ke air tambak dengan perlahan dan hati - hati

4. Pemeliharaan Udang

 Pada bulan pertama yang harus diperhatikan adalah kualitas air harus selalu stabil. Penambahan atau pergantian air harus dilakukan dengan hati - hati karena udang masih  rentan terhadap perubahan kondisi air. Dan untuk menjaga kualitas dan kestabilan air, setiap penambahan air yang baru atau maksimal 15 hari sekali diberi TON dengan dosis 1 kg per ha dan TAPRO dengan dosis setengah liter per ha.

Pada hari ke 30 , dilakukan sampling untuk melihat perkembangan udang melalui pertambahan berat udang tersebut. Udang normal pada hari ke 30 , harus sudah mencapai ukuran 250 sampai 300 ekor udang per kg. Pada setiap pergantian dan penambahan air baruu harus tetap diberi TON dengan dosis 1 kg per ha.

Mulai umur 60 hari atau lebih, hal yang harus diperhatikan yaitu mengontrol kualitas air dan kondisi udang . Setiap terlihat kondisi air keruh maka  sebaliknya segera dilakukan pergantian tair.


5. Pakan Udang

 Kebutuhan pakan awal berupa pelet untuk setiap 100.000 ekor udang adalah sebanyak 1 kg. Selanjutnya setiap 7 hari sekali cukup ditambah 1 kg lagi hingga umur 30 hari. Agar pertumbuhan udang dapat maksimal dengan waktu yang singkat, maka perlu ditambahkan nutrisi lengkap dalam pakan. Pakan harus dicampur dengan VITERNA PLUS , POC NASA , dan HORMONIK yang mengandung  mineral penting , protein dan vitamin dosis1 tutup botol (10 cc) per 2 sampai 3 kg pakan.

6. Panen Udang

Panen normal biasanya dilakukan pada umur lebih dari 90 hari dengan ukuran normal yaitu 40 per 50 ekor udang dalam 1 kg.

Ada saat dimana panen emergency. Panen emergency ini dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala besar.

Selain itu , ada juga panen parsial. Panen parsial yaitu udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik. Hal ini ditandai dengan udang yang berukuran besar, kutil keras, licin dan bersih bersinar serta alat tubuh yang lengkap dan masih hidup dan segar.

Sedangkan saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari agar udang tidak terkena sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat rusak.

7.Penyakit Udang

Penyebab dari udang yang berpenyakit adalah infeksi dari agen pembawa penyakit , serta penurunan kualitas air. Maka dari itu, pemberian TON secara rutin ke air tambak dengan dosis  1 sampai 2 kg per ha tiap 15 hari sekali mutlak harus dilakukan. Untuk hasil yang dosis 1 sampai 2 kg per ha tiap 15 hari sekali mutlak harus dilakukan. Untuk hasil yang optimal disertai dengan pemberian TAPRO dengan  dosis 500 cc per ha yang berfungsi menguraikan bahan organik menjadi bahan tidak beracun.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Budidaya Udang Windu NASA"

Post a Comment